Perubahan Gaya Hidup

Dua berita online mengabarkan bahwa wakil walikota Kediri, perempuan berusia 57 tahun, meninggal dunia akibat pendarahan di otak karena hipertensi alias tekanan darah tinggi. Tidak dirinci lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya dan bagaimana kronologis penanganan yang diterima dalam dua berita tersebut.

Penyakit tidak menular memang kini sudah sama populernya dengan penyakit menular dalam menimbulkan kematian. Jika tidak ada kasus-kasus wabah virus ‘baru’, mungkin penyakit tidak menularlah yang akan mendominasi berita di media.

Salah satu hal yang sering menjadi senjata menghadapi risiko kematian atau penyakit tidak menular adalah perubahan pola makan. Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat secara keseluruhan merupakan salah satu pilar utama kesehatan di era modern. Perubahan pola makan memiliki peran yang diperkirakan besar pada status kesehatan seseorang karena sudah cukup kuatnya istilah “you are what you eat” diterima oleh masyarakat dan secara natural manusia akan mengaitkan apa yang dikonsumsinya dengan efeknya pada kesehatan tubuhnya.

Telur ayam selama ini sering dituduh sebagai makanan yang memicu kenaikan kolesterol, sehingga sempat disarankan hanya mengonsumsi sebanyak maksimal tiga butir telur dalam seminggu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa tidak masalah mengonsumsi telur sebutir setiap hari, bahkan bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler maupun diabetes melitus. Konsumsi telur sebutir per hari tidak meningkatkan risiko penyakit jantung maupun kematian terkait kolesterol. Baca juga: AKG Indonesia versi 2019

telur kolesterol sehat setiap hari

Masalah lain adalah terkait kecelakaan lalu lintas yang sering menimbulkan korban jiwa. Di Indonesia masih banyak ditemui kendaraan bermotor yang ODOL (over dimension over loading) yang ketika terlibat dalam kecelakaan lalu lintas akan lebih berisiko menghasilkan kasus fatal. Semoga tahun 2021 segera terwujud Indonesia bebas kendaraan ODOL.

Dalam skala pribadi maupun masyarakat, kita wajib berubah menjadi lebih baik. Perlu ada perubahan gaya hidup perorangan maupun kelompok, dan perubahan ini merupakan proses yang berkelanjutan, bukan sekedar titik balik atau peristiwa tunggal. Perubahan gaya hidup adalah proses panjang yang mungkin tak akan pernah selesai. Selalu ada penemuan baru, selalu ada masalah baru, selalu ada pemahaman baru setiap hari. Mustahil standar yang sama akan senantiasa berlaku dalam jangka waktu yang lama. Prinsip-prinsip filosofis mungkin masih akan selalu relevan, namun tips-tips praktis akan selalu datang dan pergi sesuai keadaan zaman.

Nama resmi COVID-19 dan dipublikasikannya ‘foto resmi’ virus corona yang memicu wabah di Wuhan menjadi bumbu penyedap dari upaya penanggulangan penyakit baru ini. Betapa masyarakat bisa ‘terhibur’ dengan peresmian nama untuk sebuah penyakit yang masih bisa dianggap misterius dan belum ada obat spesifiknya. Foto resmi virus korona mungkin dapat memberikan sumbangsih pada ilmu pengetahuan (setidaknya dapat menjadi ilustrasi yang benar di berita maupun buku pelajaran kelak), namun kita juga tak bisa mengannggap biasa foto-foto para korban dan petugas kesehatan yang berupaya menolong mereka. Kondisi penyakit COVID-19 diperparah dengan penyakit hoax terkait hal tersebut hampir di semua media. Jika tidak hati-hati, media konvensional pun bisa terjebak untuk ikut menyebarkan berita bohong terkait COVID-19.

Untuk menjadi lebih sehat ternyata perlu perubahan gaya hidup yang tak hanya berupa perubahan pola makan, perubahan pola aktivitas fisik, dan perubahan penggunaan zat berbahaya (rokok, alkohol, dan lain-lain). Perlu ditambahkan setidaknya dua hal berikut ini: perubahan kebiasaan berkendara dan perubahan kebiasaan membaca (dan menyebarkan) berita.

Salam sehat dari saya, Yoseph Leonardo Samodra.