Pemilihan Makanan

Gizi memiliki peran penting pada kesehatan manusia. Meskipun apa yang dimakan tidak selalu langsung memberikan efek baik maupun efek buruk kepada kesehatan, namun ketika berulang dalam jangka panjang efeknya bisa bermakna. Efek yang segera dirasakan terkait kesehatan antara lain ketika makanannya tercemar atau mengandung toksin/racun sehingga dapat menimbulkan keracunan makanan. Efek buruk jangka panjang dari kebiasaan makan seseorang adalah kondisi penyakit kronis tertentu yang kini menjadi penyebab kesakitan dan kematian utama di seluruh dunia.[1]

Dahulu bahan makanan yang tersedia jumlahnya relatif terbatas, sehingga pilihan makanan yang bisa disiapkan pun terbatas. Kini terdapat berbagai macam makanan olahan yang malah membuat proses memilih makanan yang sehat menjadi makin sulit. Produsen makanan senantiasa berupaya untuk membuat produk yang menarik. Para ilmuwan pangan dipekerjakan untuk menghasilkan produk makanan berdasarkan riset mengenai apa yang dimakan, mengapa memilih makanan tertentu, dan karakteristik apa dari merk tertentu yang akan dipilih banyak orang dibandingkan merk yang lain.[2]

Semua orang memilih makanan dengan berbagai pertimbangan. Hal yang penting dilakukan adalah bagaimana bisa memilih makanan yang baik untuk kesehatan tapi juga bisa memenuhi aspek-aspek penting lain yang mendasari mengapa kita memilih suatu makanan.[1] Setidaknya ada lima alasan utama pemilihan makanan seseorang: bagaimana makanan itu terlihat dan rasanya, kesehatan, nilai budaya dan agama, kebutuhan psikologis dan sosial, dan pertimbangan finansial.[2]

Secara umum pilihan makanan seseorang akan dipengaruhi oleh hal-hal berikut ini:

Kriteria Sensoris

Ketika seseorang memilih makanan, mereka menilainya secara sadar maupun tidak sadar, terutama dari bagaimana penampilan, aroma, rasa, tekstur, bahkan bunyi makanan tersebut. Bagaimana makanan dan minuman mempengaruhi indera manusia merupakan hal yang paling mempengaruhi kebanyakan konsumen dalam memilih suatu makanan atau minuman.[2]

Penampilan

Mata menerima kesan pertama mengenai makanan: bentuk, warna, konsistensi, ukuran porsi penyajian, dan adanya kekurangan yang dapat diamati. Warna dapat menunjukkan tingkat kematangan buah, tingkat pengenceran, bahkan seberapa panas yang digunakan dalam proses pemasakan. Pisang yang kecoklatan, sari jeruk lemon yang kuning pekat, dan makaroni panggang yang kecoklatan akan mengirimkan sinyal visual yang dapat mempengaruhi selera seseorang.[2]

Warna juga dapat menipu; jika dua porsi minuman rasa buah yang identik diberi warna yang berbeda, para pencicipnya akan meyakini bahwa mereka memiliki rasa yang berbeda meskipun sebenarnya rasanya sama persis. Susu rendah lemak yang warnanya dibuat seperti warna susu biasa akan dinilai memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, teksturnya lebih lembut, dan rasanya lebih baik jika dibandingkan dengan susu rendah lemak dalam warna aslinya.[2]

Paduan warna dalam satu piring juga mempengaruhi selera. Bayangkan sebuah piring pertama yang berisi ikan panggang berdaging putih, kentang tumbuk, kubis rebus, dan es krim vanila, lalu bandingkan dengan sebuah piring kedua yang berisi dada ayam panggang yang kuning kecoklatan, ubi jalar warna oranye, dan pai blueberry. Berdasarkan penilaian penampilannya, tentu banyak orang akan memilih piring kedua.[2]

visual makanan mempengaruhi selera

Rasa

Setiap orang memiliki kecenderungan menyukai rasa tertentu. Banyak yang akan menjadi penggemar rasa manis, asin, atau gurih. Banyak juga yang menyukai rasa buah tertentu atau bahkan penggila sensasi pedas. Rasa pahit pun dapat memiliki penggemar fanatik, misalnya untuk kopi dan cokelat. Kegemaran akan rasa tertentu dari makanan kemungkinan juga memiliki pengaruh genetik, selain tentunya faktor budaya dan faktor lain.[1]

Kebiasaan: Beberapa orang akan sarapan dengan makanan yang sama hampir setiap hari selama bertahun-tahun karena kebiasaan. Mungkin juga hal ini disebabkan oleh suatu keterpaksaan, misalnya ketika berada dalam jangka panjang di instansi yang memiliki pola makan yang teratur dengan menu yang relatif sama.[1]

Kriteria Budaya dan Agama

Budaya: Makanan yang dikenal sejak lahir hingga bertumbuh dewasa akan meninggalkan kesan yang dapat mempengaruhi pemilihan makanan seseorang. Makanan yang khas untuk budaya tertentu telah melekat dengan identitas pribadi seseorang yang mengikatkan diri pada budaya tersebut. Hal ini menyebabkan banyaknya makanan yang dicari dan dilestarikan untuk mempertahankan identitas budaya suatu kelompok.[1]

Nilai yang dianut: Nilai agama atau norma tertentu dapat menjadi dasar pemilihan makanan. Beberapa contoh mencakup agama Islam akan mengarahkan pada makanan halal, agama Yahudi akan mengarahkan pada standar kosher, dan agama Hindu akan mencegah penganutnya mengonsumsi daging sapi. Aktivis pro-lingkungan mungkin akan memilih menjadi vegetarian setelah mengetahui perbedaan jejak karbon antara daging dan sayuran. Beberapa orang memboikot makanan tertentu yang diketahui diproduksi dengan mengeksploitasi binatang atau sumber daya manusia yang terlibat.[1]

Asosiasi tertentu: Beberapa makanan memiliki asosiasi (baik maupun buruk) dengan suatu kejadian, acara, atau perayaan. Ulang tahun akan terasa kurang jika tidak ada kue ulang tahun atau mungkin mie panjang umur. Makanan yang menjadi hadiah atau hukuman saat masa kanak-kanak akan meninggalkan kesan ketika seseorang tumbuh dewasa. Cerita-cerita yang terkait makanan tertentu (fakta maupun fiksi) juga dapat mempengaruhi pemilihan makanan seseorang.[1]

Kriteria Psikologis dan Sosiologis

Interaksi sosial: Kegiatan makan adalah suatu aktivitas sosial yang menyenangkan. Makan bersama sehari-hari di lingkup keluarga pun merupakan aktivitas sosial yang seru. Ketika melibatkan orang lain, kadang tanpa mempedulikan lapar atau kenyang, kita akan cenderung untuk ikut makan bersama. Terdapat kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbagi cerita sambil berbagi makanan.[1]

Emosi: Kondisi emosi yang berbeda dapat memberikan kecenderungan yang berbeda terhadap pola makan dan pilihan makanan. Beberapa makanan dikenal sebagai makanan yang memiliki efek menenangkan, sedangkan makanan lain dikenal sebagai makanan yang membangkitkan semangat. Tiap orang bisa menunjukkan efek yang berbeda-beda dalam merespon emosi yang sama.[1]

Kriteria Finansial

Harga: Semakin meningkatnya harga pangan dapat membuat pilihan makanan akan cenderung meningkat pada makanan yang lebih murah. Peningkatan pendapatan akan memperluas pilihan makanan seseorang karena pangan masih merupakan kebutuhan primer manusia.[1]

Ketersediaan: Makanan musiman tidak selalu bisa dimakan saat diinginkan. Jarak dan kondisi geografis juga sangat mempengaruhi akses terhadap makanan.[1]

Kemudahan menyiapkan: Makanan yang mudah disiapkan biasanya lebih sering dikonsumsi dibandingkan dengan makanan yang rumit. Cara termudah untuk menyiapkannya adalah dengan membeli makanan yang siap santap. Cara lainnya adalah dengan memilih makanan instan atau makanan yang tinggal dipanaskan kembali. Hal ini sangat dipengaruhi oleh mahalnya waktu, kurang lengkapnya peralatan, dan kurangnya keterampilan memasak.[1]

Kriteria Gizi

Kesehatan: Semakin tinggi literasi kesehatan akan meningkatkan peluang pemilihan makanan yang baik untuk kesehatan. Kini banyak produsen makanan yang menekankan klaim kesehatan pada produk yang mereka jual. Pangan fungsional adalah pangan yang memberikan manfaat kesehatan melebihi pangan sejenis dengan kandungan nilai gizi yang setara. Kandungan vitamin, mineral, serat, maupun zat lain akan membedakan pangan fungsional dengan pangan biasa. Cara yang bisa ditempuh untuk menciptakan pangan fungsional adalah dengan memodifikasi produksi dan proses pengolahannya atau dengan melakukan fortifikasi. Literasi kesehatan juga akan mempengaruhi porsi makan seseorang.[1]

Citra diri: Beberapa orang memilih makan atau menghindari makanan tertentu untuk mencapai citra diri yang diharapkan. Banyak yang terjebak dalam diet yang tidak sehat hanya karena ingin kurus atau malah ingin menggemukkan badan yang terlalu kurus. Faktor budaya dan sosial dapat memiliki pengaruh besar dalam menetapkan citra diri ideal seseorang.[1]

Faktor-faktor tersebut perlu dikenali dan dibicarakan ketika mendiskusikan tentang pemilihan makanan saat konsultasi gizi. Klien dan konsultan gizi harus sama-sama memiliki pikiran terbuka untuk dapat membantu memilih makanan yang lebih baik dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut yang sering saling mempengaruhi.[1]

Referensi:

[1] Rofles, S. R., Pinna, K., & Whitney, E. (2015). Understanding Normal and Clinical Nutrition (10th Ed.). Stamford: Cengage Learning.

[2] Brown, A. (2015). Understanding Food: Principles and Preparation (5th Ed). Stamford: Cengage Learning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *