menu makan siang di sekolah

Makan Siang Siswa di Jepang

Makan siang di sekolah di Jepang, atau (gakkou) kyushoku, merupakan sistem publik yang dapat ditemui di lebih dari 90% sekolah dasar dan sekolah menengah di seluruh Jepang. Sistem ini dikelola secara lokal namun dikendalikan secara nasional, dipengaruhi oleh perekonomian dan kebudayaan regional. Makan siang di sekolah di Jepang direncanakan dengan baik, seimbang dari segi gizi, dimasak di masing-masing sekolah dari bahan baku lokal, dan murah (sekitar 2,5 dolar Amerika Serikat pada 2018).

Baca juga: Kafein dan Kecerdasan Lansia

Makan siang di sekolah memiliki sejarah panjang di Jepang, bahkan mereka membanggakan sebagai salah satu sistem makan siang di sekolah tertua di dunia. Program ini dimulai di akhir 1800an berupa dimulainya program pemberian makan di sekolah dasar yang dibiayai oleh organisasi Buddhist, pemerintah lokal, atau sumbangan perorangan sebagai respon terhadap perekonomian yang terpuruk, tekanan modernisasi, dan bencana alam. Kesuksesan program ini bersandar pada semangat gotong royong dan upaya modernisasi masyarakat Jepang, yang menumbuhkan gerakan untuk memastikan generasi penerus sehat dan berdaya saing. Pemberian makanan di sekolah menjadi alasan yang sangat praktis untuk anak-anak miskin tetap bersekolah.

Awalnya makanan yang diberikan hanya berupa onigiri (nasi kepal) dengan pasta miso. Makanannya mulai membaik sejak tahun 1970an, dan sangat berubah pada tahun 2000an. Mereka tidak menggunakan makanan olahan dan kalengan lagi. Dulunya menggunakan roti sebagai makanan pokok, namun kini setidaknya 3 hari dalam seminggu mereka menggunakan nasi. Sebagian besar sekolah menyiapkan makanan segar setiap hari di dapur mereka, beberapa menggunakan jasa pusat makan siang yang melayani pembuatan makan siang untuk beberapa sekolah sekaligus.

Menunya lokal hingga global, menu standarnya dapat mencakup antara lain nasi kari, roti lapis, atau pasta. Dengan menggunakan bahan lokal, siswa dapat mempelajari perekonomian pangan lokal, juga melestarikan makanan yang kadang musiman yang menjadi kekayaan budaya Jepang selama ribuan tahun yang dikenal sebagai washoku. Intinya setiap menu harian akan mencakup nasi, roti, atau mi, protein. Ketika membahas kyushoku, para siswa tidak hanya menyantap makanan mereka. Mereka juga secara rutin mempelajari asal usul bahan bakunya, mempraktikkan etiket bersantap/table manners yang baik, dan bergiliran membantu menyajikan makanan. Jadi, kyushoku jauh melebihi sekedar makan siang, namun menjadi bagian esensial dari pendidikan anak-anak di Jepang tentang kesehatan, etiket, sosialisasi, dan kesadaran diri/mindfulness.

Tiap sekolah memiliki ahli gizi. Menu yang akan disiapkan selama sebulan ke depan direncanakan oleh para ahli gizi dari beberapa sekolah yang berada di satu distrik dalam pertemuan bulanan berdasarkan panduan diet dan target angka kecukupan gizi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Jepang. Mereka juga berupaya semaksimal mungkin mendapatkan bahan baku utama sesuai musimnya, dan dari sumber terdekat.

menu makan siang di sekolah

Sumber:

theguardian.com/world/2019/mar/01/baked-cod-miso-and-bok-choy-worlds-healthiest-school-lunches-japan-kyushoku; gohansociety.org/category/gohan-on-the-go/; nhk.or.jp/nhkworld/en/food/articles/; fastjapan.com/en

About the author

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *