Analisis: Penurunan Stunting di Katingan

CategoriesGizi MasyarakatTagged , , , , , , , , , ,

ANALISIS KEBIJAKAN

PERATURAN BUPATI KATINGAN NO 16 TAHUN 2018 TENTANG PENURUNAN STUNTING DI KABUPATEN KATINGAN

Penulis: Ully Narwastu

Baca juga: Cara Membuat Analisis Kebijakan tentang Stunting

KONTEN KEBIJAKAN

Administrasi

Berdasarkan Peraturan Bupati Katingan tahun 2018, stunting adalah suatu kondisi dimana anak gagal tumbuh akibat kekurangan gizi yang kronis. Keadaan ini dinilai dari tinggi badan berdasarkan usia yang terlalu pendek. Penurunan stunting ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat sehingga kualitas sumber daya manusia akan meningkat.

Perintah/larangan

Kegiatan penurunan stunting dilakukan dengan menyasar ibu hamil, ibu menyusui, anak sampai usia 23 bulan, dan masyarakat umum. Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi:

  1. Intervesi gizi dengan sasaran ibu hamil
    1. Memberikan makanan tambahan untuk mencegaj KEK dan KEP
    2. Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat
    3. Mengatasi kekurangan iodium
    4. Mengatasi kecacingan pada kehamilan
    5. Melindungi ibu hamil dari malaria.
  2. Intervensi gizi dengan sasaran ibu menyusui dan anak <6 bulan
    1. Mendorong IMD
    2. Mendorong ASI Eksklusif.
  3. Intervensi gizi dengan sasaran ibu hamil dan anak 6-23 bulan
    1. Melanjutkan pemberian ASI dan MPASI
    2. Menyediakan obat cacing
    3. Menyediakan Zinc
    4. Melakukan fortifikasi zat besi
    5. Memberikan perlindungan terhadap malaria
    6. Memberikan imunisasi lengkap
    7. Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.
  4. Intervensi dnegan sasaran masyarakat umum
    1. Menyediakan air bersih
    2. Menyediakan sanitasi
    3. Fortifikasi bahan pangan
    4. Menyediakan akses layanan kesehatan dan KB
    5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional
    6. Menyediakan Jaminan Persalinan
    7. Memberikan edukasi pengasuhan terhadap orang tua
    8. Memberikan pendidikan anak usai dini
    9. Memberikan edukasi gizi asyarakat
    10. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja
    11. Memberikan bantuan dan jaminan social untuk keluarga miskin
    12. Meningkakan ketahanan pangan dan gizi.

Intervensi yang dilakukan menggunakan pendekatan-pendekatan yang spesifik yaitu

  1. pendekatan kemandirian keluarga dimana keluarga diharapkan dapat mengenali, menilai dan melakukan tindakan pencegahan stunting secara mandiri
  2. gerakan masyarakat hidup sehat
  3. gerakan seribu hari pertama kehidupan.

Upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai gizi, masyarakat diberi penyuluhan terkait gizi secara periodik. Tenaga gizi yang terkait juga diberikan pelatihan secara periodik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Pemerintah Kabupaten Katingan bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk melakukan penelitian, pengembangan dan penerapan hasil penelitian gizi guna menentukan intervensi yang tepat.

Sanksi

Tidak ada sanksi yang diberikan, sebaliknya masyarakat dan atau institusi yang peduli penurunan stunting di Kabupaten Katingan akan diberikan peghargaan. Penghargaan tersebt dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan dan diberika saat hari besar nasional/kesehatan.

PROSES KEBIJAKAN

Penyusunan

Kebijakan ini disusun sebagai upaya mencegah Stunting di Kabupaten Katingan. Berdasarkan data, 33,8% penduduk Kabupaten Katingan mengalami stunting. Kalimantan Tengah sendiri menempati nomor 4 provinsi angka stunting tertinggi. Selain itu, pemerintah pusat sedang mengkampanyekan mengenai Gizi Nasional.

Dalam penyusunan kebijakan ini, pemerintah Kabupaten Katingan melalui Bappelitbang melakukan diskusi public dengan MCA-Indonesia, IMA Word Health dan eLpaM. Duskusi public ini membahas Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) Kabupaten Katingan sebagai upaya mencegah Stunting di Kabupaten Katingan pada 30 Januari 2018. Dalam diskusi ini dihadiri berbagai organisasi seperti PKK, Persagi, IBI, KNPI, PWI, sejumlah camat, Tokoh agaman, tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya. Narasumber yang dihadirkan yaitu Komisi I DPRD Kabupaten Katingan yang membidangi kesehatan dalam upaya perbagikan gizi masyarakat, Ketua Tim Teknis Penyusunan RAD-PG Katingan, dan eLPaM-Mitra pelaksana kampanye gizi nasional (Beritasampit, 2018)

Pelaksanaan

Pelaksanaan program penurunan stunting dilakukan oleh Kepala Dinas yang dibantu oleh Tim Penurunan Stunting Kabupaten Katingan. Tim ini bertugas melakukan koordinasi lintas sektoral, mengkaji permasalahan stunting, merencanakan tujuan, sasaran, prioritas dan strategi program penurunan stunting, monitoring dan evaluasi, melakukan sosialisasi program ke daerah, memberikan rekomendasi dan laporan kepada Bupati.

Tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan melakukan pencatatan upaya penurunan stunting dan kemudian melaporkan secara berjejang.

Masyarakat berperan serta dalam menerapkan upaya peningkatan status gizi inividu, keluarga dan masyarakat. Selain itu, masyarakat dapat menyampaikan masalah yang ditemukan dan atau solusi pemecahan masalah dalam bidang kesehatan dan gizi.

Pendanaan program ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai perundang-undangan.

Pengawasan

Tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan melakukan pencatatan dan pelaporan secara berjenjang kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan melakukan pelaporan program secara berkala kepada Bupati Katingan. Selain itu, Tim Penurunan Stunting menyampaikan laporan tugas kepada Bupati secara berkala. Dapat disimpulkan pengawasan pada kebijakan ini bersifat Top-Down.

RINGKASAN KONTEKS KEBIJAKAN

Peraturan Bupati ini dibentuk karena angka kejadian stunting di Indonesia dan Kabupaten Katingan tinggi. Menurut berita elektronik Borneo news mengaakan angka kejadian stunting di Kabupaten Katingan tahun 2017 mencapai 34%. Tingginya kejadian stunting menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pembangunan kualitas Sumber Daya Masyarakat. Selain itu, peraturan ini dibentuk sebagai salah satu langkah Kabupaten Katingan dalam melakukan program sesuai Peraturan Presiden No 42 Tahun 2013 pasal 15 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Proses pembuatan kebijakan ini bersifat Tp-Down.

Sasaran kebijakan ini yaitu anak-anak dibawah 23 bulan, ibu hamil, ibu menyusui, dan masyarakat umum. Intervensi yang dilakukan meliputi pemberian makanan tambahan, zat besi, asam folat, iodium, obat cacing, fortifikasi zat besi, zink dan imunisasi. Peningkatan kualitas dan kuantitas Jaminan Kesehatan merupakan salah satu upaya dalam mencegah stunting. Pendekatan intervensi yang dilakukan menggunakan pendekatan kemandirian keluarga, Gerakan Masyarakat Hidup sehat dan Gerakan Seribu Hari Pertama Kehidupan. Kemandirian keluarga yaitu dengan strategi edukasi kesehatan dan gizi terkait upaya promotif dan preventif perubahan perilaku kelaurga. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dilaksanakan melalui upaya peningkatan aktivitas fisik, perilaku hidup sehat, penyedian pangan, kualitas lingkungan dan edukasi. Gerakan Seribu Hari Pertama Kehidupan yaitu upaya pemenuhan kebutuhan gizi bayi pada seribu hari kehidupan. Tenaga kesehatan melakukan pencatatan berdasarkan indikator terkait dan melakukan pelaporan kepada kepala dinas secara berkala. Masyarakat juga diberikan edukasi mengenai gizi hingga Pratik-praktik untuk memperbaiki gizi oleh Dinas. Edukasi dilakukan oleh tenaga gizi terlatih yang secara periodik diberikan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilannya. Dalam pelaksanaan kebijakan ini, Pemerintah Katingan bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk melakukan penelitian dalam rangka menentukan intervensi tepat guna.

Pelaksanaan kebijakan ini menggunakan dana APBD, APBN dan dana lain yang sah secara perundan-undangan. Tidak ada sanksi yang diberikan pada kebijakan ini, namun pemerintah memberikan penghargaan kepada masyarakat dan atau institusi yang peduli mengenai penurunan stunting di Kabupaten Katingan.

Upaya pencegahan Stunting memerlukan peran lintas sektoral dan peran aktif dari masyarakat itu sendiri. Masing-masing sector melakukan intevensi sesuai porsinya. Sector kesehatan melakukan intervensi berupa upaya pemberian makan tambahan, suplementasi dan posyandu. Sector lain dapat berperan seperti upaya penyedian ruang laktasi, kantin sehat, peran Jaminan Kesehatan dan lainnya. Terlebih dari itu, Keluarga sebagai Komunitas terkecil sangat berperan dalam upaya pencegahan stunting. Orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab menjaga dan merawat anak sudah seharusnya sebagai peran utama.

ANALISIS KEBIJAKAN PERATURAN BUPATI KATINGAN

Referensi

jdih.katingankab.go.id/uploads/1-2019-02-22-130350.pdf; borneonews.co.id/berita/72174-ini-penyebab-stanting-tinggi-di-katingan; borneonews.co.id/berita/72173-waduh-26-7-anak-di-katingan-stanting; borneonews.co.id/berita/121495-dinas-kesehatan-kalteng-fokus-pada-penurunan-angka-stunting; beritasampit.co.id/2018/01/31/cegah-stunting-karyadi-dorong-pemkab-katingan-membuat-draf-perda-gizi/; beritasampit.co.id/2019/05/02/bupati-katingan-berniat-buat-regulasi-soal-stunting/; beritasampit.co.id/2018/01/31/tiga-lembaga-ini-gelar-diskusi-publik-di-katingan-tentang-apa-ya/; mca-indonesia.go.id/assets/uploads/media/pdf/Buku-Gambaran-Umum-ok.pdf

 

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *