Epidemiologi Stunting

Definisi dan Faktor Penyebab

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut umurnya lebih rendah dari standar normal nasional yang berlaku. Standar dimaksud terdapat pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan beberapa dokumen lainnya. Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang, dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK.

Epidemiologi Global Stunting

Prevalensi stunting di antara anak-anak di bawah lima tahun (balita) menurun dan stunting telah berkurang secara global selama 9 tahun terakhir dari 171 juta (2010) menjadi 149 juta anak (2018). 11 negara yang menunjukkan perbaikan bermakna untuk mencapai target World Health Assembly berupa pengurangan jumlah balita stunting sebanyak 40%:

  1. Bangladesh
  2. Burkina Faso
  3. Cote d’Ivoire
  4. El Salvador
  5. Eswatini
  6. Ghana
  7. Kenya
  8. Kyrgyzstan
  9. Liberia
  10. Peru
  11. Tajikistan.

epidemiologi prevalensi stunting di indonesia terbaru

Epidemiologi Nasional Stunting

Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Walaupun prevalensi stunting menurun dari angka 37,2% pada tahun 2013, namun angka stunting tetap tinggi dan masih ada 2 (dua) provinsi dengan prevalensi di atas 40% yaitu Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Pentingnya Menurunkan Prevalensi Stunting

Penurunan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit. Anak stunting berisiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya. Bahkan, stunting dan berbagai bentuk masalah gizi diperkirakan berkontribusi pada hilangnya potensi 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.

Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Sejalan dengan inisiatif Percepatan Penurunan Stunting, pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 HPK. Selain itu, indikator dan target penurunan stunting telah dimasukkan sebagai sasaran pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2017-2019.

Kerangka konseptual intervensi penurunan stunting terintegrasi merupakan panduan bagi pemerintah kabupaten/kota dalam menurunkan kejadian stunting. Pemerintah kabupaten/kota diberikan kesempatan untuk berinovasi untuk menambahkan kegiatan intervensi efektif lainnya berdasarkan pengalaman dan praktik baik yang telah dilaksanakan di masing-masing kabupaten/kota dengan fokus pada penurunan stunting. Target indikator utama dalam intervensi penurunan stunting terintegrasi adalah:

  1. Prevalensi stunting pada anak baduta dan balita
  2. Persentase bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
  3. Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita
  4. Prevalensi wasting (kurus) anak balita
  5. Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif
  6. Prevalensi anemia pada ibu hamil dan remaja putri
  7. Prevalensi kecacingan pada anak balita
  8. Prevalensi diare pada anak baduta dan balita.

Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Holistik, Intergratif, Tematik, dan Spatial (HITS). Upaya penurunan stunting akan lebih efektif apabila intervensi gizi spesifik dan sensitif dilakukan secara terintegrasi atau terpadu.

Intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan. Intervensi spesifik ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan.

Intervensi gizi sensitif mencakup: (a) Peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi; (b) Peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan; (c) Peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak; (c); serta (d) Peningkatan akses pangan bergizi. Intervensi gizi sensitif umumnya dilaksanakan di luar Kementerian Kesehatan.

Strategi Percepatan Perbaikan Gizi dalam RPJMN 2015-2019

  1. Peningkatan surveilans gizi termasuk pemantauan pertumbuhan
  2. Peningkatan akses dan mutu paket pelayanan kesehatan dan gizi dengan fokus utama pada 1.000 hari pertama kehidupan (ibu hamil hingga anak usia 2 tahun), balita, remaja, dan calon pengantin
  3. Peningkatan promosi perilaku masyarakat tentang kesehatan, gizi, sanitasi, higiene, dan pengasuhan
  4. Peningkatan peran masyarakat dalam perbaikan gizi termasuk melalui Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat/UKBM (Posyandu dan Pos PAUD)
  5. Penguatan pelaksanaan, dan pengawasan regulasi dan standar gizi
  6. Pengembangan fortifikasi pangan
  7. Penguatan peran lintas sektor dalam rangka intervensi sensitif dan spesifik yang didukung oleh peningkatan kapasitas pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaan rencana aksi pangan dan gizi.

Baca juga: AKG 2019

Strategi Scaling Up Nutrition di Indonesia

Menyatukan orang ke dalam ruang bersama untuk bertindak

Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (Stranas Stunting) 2018-2024, diluncurkan oleh Wakil Presiden. Strategi ini melibatkan 23 kementerian dalam koordinasi di tingkat nasional, namun masih perlu diperluas di tingkat daerah dan ke sektor non-pemerintah. Target pengurangan stunting dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Mekanisme pemantauan dan evaluasi terpadu untuk pengurangan stunting sedang dikembangkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan kantor Wakil Presiden.

Memastikan kebijakan dan kerangka hukum yang koheren

Pedoman pelaksanaan untuk intervensi pengurangan stunting terintegrasi di tingkat kabupaten dikembangkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Dalam Negeri. Kerangka hukum untuk mengatur keamanan, standar, dan inspeksi pangan sudah diterapkan dan sistem untuk memantau pelaksanaannya sudah dijalankan. Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku Sosial Nasional telah dibuat oleh Kementerian Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) 2018 diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan dan akan dilakukan setiap 5 tahun.

Menyelaraskan tindakan pada rencana gizi nasional multi-tahun

Kantor Wakil Presiden mengadakan pertemuan tentang stunting (November 2018) yang melibatkan pejabat pemerintah dari 160 kabupaten dan 34 provinsi untuk menyelaraskan kebijakan dan tindakan untuk mengurangi stunting. Kerangka kerja pemantauan dan evaluasi untuk tingkat nasional dan daerah sedang difinalisasi. Kabupaten prioritas untuk pengurangan stunting pada 2019 (160) dan 2020 (260) diidentifikasi oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan dimasukkan dalam Rencana Kerja Tahunan Pemerintah (RPK). Diskusi tahunan diadakan di tingkat nasional dan daerah untuk menyepakati tindakan prioritas untuk gizi.

Pelacakan pembiayaan dan mobilisasi sumber daya

Mekanisme penandaan anggaran untuk program pengurangan stunting di antara kementerian dan lembaga disahkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Keuangan. Perkiraan biaya untuk tindakan gizi di tingkat nasional telah selesai tetapi belum di tingkat daerah. Ada rencana biaya untuk rencana gizi nasional multi-tahun, namun, pelacakan keuangan untuk pemangku kepentingan di luar pemerintah belum dilakukan. Pemerintah pusat telah melakukan pelacakan keuangan pada bidang gizi pada tahun 2018. Dana untuk pengurangan stunting disalurkan dari tingkat nasional ke daerah.

Pertanyaan Untuk Diskusi Lebih Lanjut

  1. Hal-hal apa yang dapat dipelajari dari 11 negara yang menunjukkan perbaikan bermakna untuk menurunkan jumlah balita stunting?
  2. Hambatan apa yang dihadapi oleh 2 (dua) provinsi dengan prevalensi stunting >40%?
  3. Apa kaitan target indikator utama nomor 2-8 terhadap indikator utama nomor 1?

Sumber:

  1. Scaling up Nutrition (SUN) Movement Progress Report 2019
  2. Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi Di Kabupaten/Kota 2018

 

Rangkuman ini merupakan bagian dari materi kuliah Epidemiologi Gizi oleh dr. Jansje Henny Vera Ticoalu, M.P.H.:

  • angka kejadian anemia di indonesia terbaru Epidemiologi Anemia Gizi - Etiologi Anemia Gizi Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah hemoglobin yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen. Penyebab utama anemia gizi adalah kekurangan zat besi (Fe) dan asam folat yang seharusnya tak perlu terjadi bila makanan sehari hari beraneka ragam dan memenuhi gizi seimbang. Sumber makanan yang… ...
  • epidemiologi prevalensi stunting di indonesia terbaru Epidemiologi Stunting - Definisi dan Faktor Penyebab Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut umurnya lebih rendah dari standar normal nasional yang berlaku. Standar dimaksud terdapat pada… ...