Epidemiologi Anemia Gizi

Etiologi Anemia Gizi

Anemia didefinisikan sebagai penurunan jumlah hemoglobin yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen. Penyebab utama anemia gizi adalah kekurangan zat besi (Fe) dan asam folat yang seharusnya tak perlu terjadi bila makanan sehari hari beraneka ragam dan memenuhi gizi seimbang. Sumber makanan yang mengandung zat besi yang mudah diabsopsi tubuh manusia adalah sumber protein hewani seperti ikan, daging, telur, dsb. Sayuran seperti daun singkong, kangkung dan bayam juga mengandung zat besi akan tetapi lebih sulit absorpsinya di dalam tubuh.

Pemerintah Indonesia telah mewajibkan pengayaan mineral dan vitamin (zat besi, zink, asam folat, tiamin dan riboflavin) pada semua terigu yang dipasarkan di Indonesia sebagai bagian dari strategi perbaikan gizi terutama penanggulangan anemia gizi.

Kebutuhan zat besi bagi remaja putri dan calon pengantin wajib dipenuhi untuk membentuk haemoglobin yang mengalami peningkatan dan mencegah anemia yang disebabkan karena kehilangan zat besi selama menstruasi. Penyebab langsung & tidak langsung defisiensi Fe:

  1. Jumlah Fe dalam makanan tidak cukup.
  2. Ketersediaan Fe dalam makanan kurang.
  3. Kualitas & kuantitas makanan kurang.
  4. Social ekonomi rendah.
  5. Penyerapan zat besi dalam tubuh rendah.
  6. Komposisi makanan kurang beraneka ragam.
  7. Terdapat zat penghambat penyerapan zat besi, minum tablet besi dengan tablet kalsium sehingga zat besi tidak dapat diserap maksimal.
  8. Defisiensi vitamin C.
  9. Kebutuhan zat besi yang meningkat.
  10. Kehilangan darah.

Asam folat digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah. Asam folat berperan penting pada pembentukan DNA dan metabolisme asam amino dalam tubuh. Kekurangan asam folat dapat mengakibatkan anemia karena terjadinya gangguan pada pembentukan DNA yang mengakibatkan gangguan pembelahan sel darah merah sehingga jumlah sel darah merah menjadi kurang. Asam folat bersama-sama dengan vitamin B6 dan B12 dapat membantu mencegah penyakit jantung. Seperti halnya zat besi, asam folat banyak terdapat pada sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Baca juga: AKG Indonesia untuk Wanita

Kekurangan vitamin A diketahui dapat memicu terjadinya anemia. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A dapat menyebabkan gangguan pada metabolism zat besi. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan anemia melalui efek pada metabolisme besi, hematopoiesis, dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Beberapa penelitian gizi dari seluruh dunia menunjukkan hubungan yang erat antara kekurangan vitamin A dan anemia. Ada bukti yang jelas dari hubungan antara serum retinol dan indikator zat besi dan kekurangan vitamin A dianggap sebagai salah satu penyebab anemia.

Epidemiologi Anemia Gizi di Dunia

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar. Penduduk dunia yang mengalami anemia berjumlah sekitar 30% atau 2,20 miliar orang dengan sebagian besar di antaranya tinggal di daerah tropis. Prevalensi anemia secara global sekitar 51%. Sekitar 47,4% mengenai anak yang berusia di bawah 5 tahun. Di negara berkembang, prevalensi anemia anak di bawah 5 tahun sebesar 42%, dan usia 5-14 tahun 53%. Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering dijumpai di seluruh dunia, sehingga anemia defisiensi besi menjadi penyakit akibat defisiensi nutrisi yang paling banyak di dunia.

Populasi anak penderita anemia defisiensi besi (ADB) di seluruh dunia diperkirakan sebesar 40%, di mana 25% di antaranya dalam usia sekolah. Anak dengan anemia defisiensi besi akan rentan terinfeksi dan memperburuk morbiditas dan mortalitasnya. Selain berdampak personal, anemia defisiensi besi dengan kerentanan infeksi juga berdampak negatif terhadap kondisi kesehatan regional dan global.

Secara global, prevalensi anemia pada anak usia sekolah menunjukkan angka yang tinggi yaitu 37%, sedangkan di Thailand 13,4% dan di India 85,5%. Prevalensi anemia di kalangan anak-anak di Asia mencapai 58,4%, angka ini lebih tinggi dari rata-rata di Afrika (49,8%).

Di Amerika Serikat sekitar 6% anak berusia 1–2 tahun diketahui kekurangan besi, 3 % menderita anemia. Lebih kurang 9% gadis remaja di Amerika Serikat kekurangan besi dan 2% menderita anemia, sedangkan pada anak laki-laki sekitar 50% cadangan besinya berkurang saat pubertas. Prevalensi ADB lebih tinggi pada anak kulit hitam dibanding kulit putih. Keadaan ini mungkin berhubungan dengan status sosial ekonomi anak kulit hitam yang lebih rendah.

Kurang lebih terdapat 370 juta wanita di berbagai negara berkembang menderita anemia defisiensi zat besi dengan 41% diantaranya wanita tidak hamil. Prevalensi anemia di India menunjukkan angka sebesar 45% remaja putri telah dilaporkan mengalami anemia defisiensi zat besi.

Epidemiologi Anemia Gizi di Indonesia

Prevalensi anemia di Indonesia pada semua kelompok umur adalah 21,70%. Prevalensi anemia pada perempuan relatif lebih tinggi (23,90%) dibanding laki-laki (18,40%). Beberapa penelitian melaporkan bahwa prevalensi anemia pada anak di Indonesia sebesar 62%. Laporan Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa anemia gizi besi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia dengan prevalensi pada anak usia 5-12 tahun sebesar 29% dan di Kota Makassar sebesar 37,6%. Data SKRT tahun 2007 menunjukkan angka kejadian anemia defisiensi besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anak balita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%.

Prevalensi anemia berdasarkan lokasi tempat tinggal menunjukkan tinggal di pedesaan memiliki persentase lebih tinggi (22,80%) dibandingkan tinggal di perkotaan (20,60%), sementara prevalensi anemia pada perempuan usia 15 tahun atau lebih adalah sebesar 22,70%. Prevalensi anemia defisiensi zat besi pada remaja putri di tahun pertama menstruasi sebesar 27,50%, dengan rata-rata usia pertama kali mengalami menstruasi pada usia 13 tahun. Angka kejadian ADB pada gadis remaja yang hamil 26%. Menurut hasil Riskesdas tahun 2013 prevalensi anemia defisiensi besi banyak ditemukan pada remaja perempuan sebesar 22,7%, sedangkan anemia defisiensi besi pada remaja laki-laki sebesar 12,4%.

Angka anemia pada ibu hamil secara nasional menurut Riskesdas 2013 adalah 37,1%, angka kejadian pada penduduk pedesaan (37,8%) lebih tinggi dibanding penduduk kota (36,4%). Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada tahun 2017, prevalensi anemia ibu hamil di Kabupaten Sleman sebesar 8,1% dengan prevalensi paling tinggi di wilayah kerja Puskesmas Prambanan yang mencapai 21,4%, disusul oleh Puskesmas Godean II (18,5%) dan Puskesmas Tempel I (15,7%).

Sekitar 6 dari 10 lansia mengalami anemia gizi. Pada umumnya disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi dan beberapa vitamin, terutama vitamin B12, C, dan asam folat. Kekhawatiran akan kegemukan membuat lansia membatasi asupan lauk-pauk dan buah yang berisiko menimbulkan kekurangan zat besi dan vitamin tersebut.

Pertanyaan untuk Diskusi

  1. Bagaimana prevalensi anemia gizi di Indonesia pada tahun 2018-2020?
  2. Apa perbedaan gambaran epidemiologi anemia defisiensi besi pada wanita di pedesaan dan perkotaan berdasarkan minimal 4 jurnal ilmiah dari tahun 2016-2020?
  3. Apa intervensi yang dapat ditiru dari negara lain yang berhasil meraih penurunan angka anemia gizi yang bermakna?

angka kejadian anemia di indonesia terbaru

Sumber

  1. Gizi dalam Daur Kehidupan, 2017
  2. Pedoman Gizi Seimbang, 2014
  3. Status Imunitas Anak dengan Anemia Defisiensi Besi, CDK, 2018
  4. Faktor Risiko Anemia pada Pasien Kusta Anak dalam terapi MDT (Multi Drug Therapy), Sari Pediatri, 2017
  5. Hubungan Umur, Tingkat Pendidikan, dan Aktivitas Fisik Santriwati Husada dengan Anemia, JBE, 2018
  6. Anemia Defisiensi Besi, Averrous, 2018
  7. Pengkayaan Ilmu Petugas Puskesmas Sebagai Langkah Penurunan Angka Anemia di Kabupaten Sleman, JCOEMPH, 2018
  8. Kejadian Anemia pada Siswa Sekolah Dasar, JKMN, 2015
  9. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia pada Santriwati di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang, JKM, 2016
  10. Hubungan Kekuarangan Vitamin A dengan Anemia pada Anak Usia Sekolah, Giz Indon, 2013.

Rangkuman ini merupakan bagian dari materi kuliah Epidemiologi Gizi oleh dr. Jansje Henny Vera Ticoalu, M.P.H.:

[display-posts tag=”epidemiologi-gizi” include_title=”true” image_size=”thumbnail” include_excerpt=”true” excerpt_more=”…”]