gizi biokimia olahraga kebugaran aerobik kuliah

Efek Berolahraga

Baca tulisan sebelumnya agar dapat memiliki pemahaman yang lebih baik: Metabolisme Kontraksi Otot

Perubahan penggunaan harian otot rangka memiliki efek mendalam pada kapasitas fungsionalnya. Baik peningkatan maupun penurunan tingkat aktivitas harian dapat mengubah struktur otot, kapasitas produksi tenaga, dan toleransinya terhadap kelelahan. Dari sudut pandang biokimia, perubahan ini terutama disebabkan oleh perubahan perfusi jaringan dan enzim metabolisme, terutama pada kemampuan otot untuk mengambil glukosa, memanfaatkan lemak sebagai sumber energi, dan menghasilkan ATP. (3)

gizi biokimia olahraga kebugaran aerobik kuliah

Kita dapat memisahkan latihan olahraga menjadi dua kategori: latihan kekuatan dan aerobik.

Tujuan utama latihan kekuatan, juga disebut latihan resistance, adalah untuk meningkatkan kemampuan otot tertentu, atau kelompok otot tertentu, untuk menghasilkan kekuatan. Ini biasanya dilakukan melalui sejumlah kecil pengulangan/repetisi dari satu gerakan latihan melawan tahanan yang hanya memungkinkan otot berkontraksi dalam rentang gerak penuh dalam jumlah yang sangat terbatas (misalnya 6 hingga 8 kali pengulangan bicep curl). (3)

Tujuan utama pelatihan aerobik, juga disebut latihan ketahanan/endurance, adalah untuk meningkatkan daya tahan dan mengurangi kelelahan selama aktivitas fisik berkepanjangan dan intensitas rendah, misalnya berlari atau berjalan. Ini dicapai melalui sejumlah pengulangan kontraksi otot pada resistensi yang rendah. Setiap kontraksi otot dalam latihan kekuatan mungkin mencapai 75-90%, sedangkan dalam sesi latihan aerobik mungkin mencapai 15-20%, dari tingkat kekuatan maksimal otot itu. (3)

Latihan kekuatan memiliki efek minimal pada biokimia otot. Peningkatan kapasitas produksi kekuatan yang terjadi akibat latihan kekuatan disebabkan oleh peningkatan ukuran sel, yaitu hipertrofi. Dengan lebih banyak miofibril dan sarkoma (unit kontraktil otot) maka didapatkan peningkatan kemampuan produksi tenaga. Ketika enzim glikolitik diperiksa dan dinormalisasi dengan ukuran sel yang meningkat, tidak ada perubahan akibat latihan kekuatan. Ketika aktivitas enzim mitokondria dinormalisasi dengan peningkatan ukuran sel setelah latihan kekuatan, biasanya ada sedikit penurunan, menunjukkan bahwa meskipun kapasitas produksi tenaga meningkat, kapasitas produksi ATP (setidaknya berdasarkan ukuran sel) malah sedikit menurun. Dalam hal kecepatan kontraksi dan sarcomere cross-bridge cycling, ini terutama ditentukan oleh aktivitas myosin-ATPase, ditemukan relatif tidak berubah setelah latihan kekuatan. (3)

Menanggapi latihan aerobik, perubahan biokimia utama adalah peningkatan kapasitas untuk memetabolisme lemak, didukung oleh peningkatan jumlah, ukuran, dan enzim mitokondria. Semua jenis serat otot (cepat dan lambat) akan meningkatkan konsentrasi dan aktivitas sitrat sintase dan sitokrom-cnya 2–3 kali lipat, menghasilkan peningkatan produksi ATP pada beban kerja yang diberikan (yaitu intensitas latihan), sehingga otot kemudian dapat mengandalkan lebih banyak oksidasi lemak dan lebih sedikit pada metabolisme anaerob. Pergeseran menuju metabolisme aerob menunda kelelahan otot; hanya ada efek kecil pada enzim glikolitik dalam menanggapi latihan aerobik, dan efek pada ukuran sel akibat latihan aerob juga minimal. Pergeseran kecil dalam komposisi myosin-ATPase juga dapat terjadi, yang mengarah pada fenotip otot yang lebih lambat (pembentukan cross-bridge yang lebih lambat selama kontraksi) karena latihan aerobik. (3)

Peningkatan pemanfaatan glukosa sebagai akibat dari peningkatan ekspresi GLUT-4 dan hexokinase lebih banyak sebagai respons terhadap latihan aerobik daripada latihan kekuatan. Hal ini mudah dilihat, mengingat jumlah otot rangka dalam tubuh, bagaimana glukosa darah menurun pada orang dengan diabetes yang menjalani program olahraga. Perlu juga dicatat bahwa hampir semua adaptasi ini akan terjadi secara terbalik sebagai tanggapan terhadap segala bentuk penghentian latihan, apakah itu karena tidak mau melanjutkan program latihan atau terpaksa istirahat di tempat tidur karena cedera atau penyakit. Berkurangnya penggunaan otot menyebabkannya menjadi kurang efisien secara metabolik; sayangnya de-adaptasi ini mulai nampak jelas hanya dalam beberapa hari setelah penghentian latihan. Faktor-faktor lain yang dipengaruhi oleh latihan aerobik termasuk perubahan dalam curah jantung, peningkatan kepadatan kapiler, dan peningkatan simpanan glikogen. Lebih lanjut, karena perubahan terjadi relatif terhadap status asli otot, lansia yang tidak banyak bergerak akan mengalami respons biokimia otot yang sebanding dengan yang dialami oleh orang yang lebih muda. Dengan demikian, terlepas dari usia, individu sedenter yang memulai setidaknya program olahraga tingkat sedang akan cenderung mengalami adaptasi biokimia dan manfaat kesehatan yang substansial. (3)

Cairan dan Elektrolit

Olahraga menyebabkan penurunan volume plasma, terutama jika olahraga dilakukan di lingkungan yang hangat/panas. Keringat bersifat hipotonik terhadap plasma, sehingga relatif lebih banyak air yang hilang daripada ion. Komposisi keringat bervariasi dari orang ke orang dan juga tergantung pada tingkat produksi keringat. Pada tingkat produksi yang lebih tinggi, keringat mengalami peningkatan konsentrasi natrium dan klorida, dan lebih sedikit kalium meskipun tetap hipotonik terhadap plasma. Latihan dan aklimatisasi suhu panas menyebabkan produksi keringat yang lebih encer, yang membantu mempertahankan kadar natrium dan klorida dan meningkatkan toleransi olahraga; efek ini mungkin dimediasi oleh pelepasan aldosteron sebagai respons terhadap hilangnya ion natrium. (1)

Minum air yang mengandung natrium klorida meningkatkan pemulihan dari olahraga dan/atau dehidrasi akibat panas. Minum air tanpa garam mengurangi osmolalitas cairan ekstraseluler dan mengurangi kehausan, malah akan menunda rehidrasi. Ini adalah dasar dari minuman olahraga yang mengandung natrium klorida dan kalium; beberapa juga mengandung karbohidrat untuk sumber energi. Namun, overhidrasi yang menyebabkan hiponatremia berbahaya selama olahraga adalah masalah yang signifikan terutama pada mereka yang tidak terbiasa berolahraga berat dan dalam waktu yang lama. (1)

(Daftar Pustaka)

About the author