Bakteri Patogen pada Minuman yang Dijual di Jatinangor

Air sangat penting dalam kehidupan. Semua sistem tubuh kita sangat bergantung pada air, misalnya untuk membawa nutrisi, membuang racun dari organ vital, dan untuk mempertahankan homeostasis seluler. Meskipun demikian, air juga dianggap sebagai media utama untuk penyebaran bakteri. Oleh karena itu, konsumsi air yang terkontaminasi oleh bakteri patogen dapat menimbulkan beberapa dampak kesehatan yang serius yang dikenal dengan istilah penyakit yang ditularkan melalui air. Laporan penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa kejadian penyakit yang ditularkan melalui air yang disebabkan oleh mikroorganisme, termasuk diare yang disebabkan oleh Enterobacteriaceae, telah meningkat secara signifikan selama beberapa dekade terakhir. Air minum yang aman telah menjadi salah satu hak dasar utama kita sejak saat itu. Dengan demikian, pencegahan terhadap kontaminasi mikroba dalam air minum menjadi sangat perlu ditekankan.

teh susu terkontaminasi bakteri

 

Sebanyak 30 sampel dikumpulkan oleh Teow Sheng Hao, Yanti Mulyana, dan Bachti Alisjahbana pada September 2015 dari penjual minuman yang dipilih secara acak di sekitar Jatinangor, yang tidak menyimpan minuman yang mereka jual di lemari es. Minuman didefinisikan sebagai minuman yang dibuat oleh penjual minuman itu sendiri. Standar minumannya adalah teh dengan susu, teh dengan gula, dan minuman sirup. Tidak ada es batu dalam minuman.

Semua sampel dikumpulkan dalam wadah bersih dan dibawa ke laboratorium dalam waktu satu jam. Sampel diinkubasi dalam kaldu Mueller Hinton pada suhu 37ºC selama 24 jam. Sampel kemudian disebarkan pada agar MacConkey dan diinkubasi dalam suhu 37ºC selama 24 jam. Pengamatan dilakukan untuk mendeteksi koloni yang tumbuh di MacConkey. Selanjutnya, koloni dikumpulkan menggunakan loop inokulasi steril dan dioleskan pada slide untuk pewarnaan gram. Prosedur pewarnaan Gram ini menggunakan larutan kristal violet, larutan yodium, alkohol 96%, dan safranin. Koloni yang dicurigai pertama kali dicampur dengan NaCl 0,9%. Setelah menjadi suspensi kering, koloni yang dicurigai dicampur dengan larutan kristal violet selama 1 menit untuk mewarnai sel menjadi ungu. Slide dibilas dengan air keran dan dituangi dengan larutan yodium selama 1 menit untuk mewarnai sel. Selanjutnya, slide dibilas lagi di bawah air keran dan kemudian dihilangkan warnanya dengan menggunakan alkohol 96%. Terakhir, safranin ditambahkan selama 1 menit. Hasil akhirnya akan menunjukkan warna merah muda atau merah yang menunjukkan adanya sel-sel gram negatif.

Bakteri enteropatogenik akan diidentifikasi di bawah mikroskop menggunakan lensa objektif 100x dengan setetes minyak imersi. Selain pewarnaan Gram, tiga tes biokimia lainnya dilakukan menggunakan uji Kliger Iron Agar (KIA), tes Motility Indole Urease (MIU), dan tes sitrat. Sejumlah kecil koloni bakteri ditanam dalam 3 media dan diinkubasi dalam 37ºC selama 24 jam. Bakteri diidentifikasi oleh penampilan khas mereka yang berbeda-beda berdasarkan tes biokimia spesifik yang dilakukan.

koloni bakteri di minuman kaki lima

Dari 30 sampel yang dikumpulkan, 2 sampel menunjukkan hasil positif untuk patogen bakteri enterik Salmonella paratyphi. Klebsiella pneumoniae (n = 12), Enterobacter spp. (n = 10), Alcaligenes faecalis (n = 3), dan Pseudomonas spp. (n = 3) juga terdeteksi dalam sampel.

Dari 30 sampel minuman yang dikumpulkan, 28 sampel (93,3%) telah ditemukan terkontaminasi oleh bakteri patogen atau non-patogen. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Althea Medical Journal volume 6 nomor 1 tahun 2019 tersebut dapat menggambarkan bahwa penjual minuman di Jatinangor sebagian besar menyajikan minuman yang terkontaminasi untuk pelanggannya. Ini mencerminkan bahwa banyak orang telah terpapar risiko kesehatan yang tidak diinginkan, yaitu penyakit yang ditularkan melalui air, setelah mengkonsumsi minuman yang terkontaminasi tersebut.

Demikian pula, penelitian di Pakistan telah menunjukkan bahwa terdapat sejumlah besar kontaminasi mikroba yang ditemukan dalam minuman yang dijual oleh pedagang kaki lima. Lingkungan yang tidak higienis dan praktik penanganan minuman yang buruk jelas memiliki hubungan yang kuat dengan kontaminasi mikroba yang ditemukan dalam minuman. Laporan-laporan ini juga menunjukkan kemungkinan bakteri untuk dapat bertahan hidup dalam minuman terutama di daerah ekonomi rendah.

Patogen yang ditemukan dalam minuman pada penelitian ini adalah Salmonella paratyphi, sebagian besar ditemukan dalam kotoran hewan. Bakteri itu memang diketahui bersifat patogen terhadap manusia, di mana seseorang dapat menderita demam parah dan sakit perut. Salmonella paratyphi memiliki beberapa karakteristik unik yang memungkinkan mereka bertahan hidup di lingkungan yang keras, seperti kemampuan tumbuh pada 7-48 ° C dengan pertumbuhan optimal pada suhu tubuh manusia 37 ° C dan pada pH 4 hingga 9,5 dengan pertumbuhan optimal pada pH 6,5 hingga 7,5. Oleh karena itu, Salmonella spp berhasil bertahan hidup di lambung melalui induksi respon toleransi asam dan kemampuan untuk menjalani respon adaptif terhadap pH asam sedang. Waktu pengosongan lambung yang singkat setelah mengonsumsi minuman juga dapat memfasilitasi kelangsungan hidup Salmonella spp.

personal higiene yang buruk

Adanya bakteri enteropatogenik seperti Salmonella paratyphiis berkorelasi dengan buruknya kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan, kurangnya pasokan air bersih, dan ketidaktahuan praktik promosi kesehatan. Ini mungkin secara tidak langsung karena status pendidikan yang rendah yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit menular di kalangan penduduk. Spesies Enterobacteriaceae lain yang terdeteksi dalam penelitian ini mendukung dugaan telah terjadi kontaminasi bakteri tinja karena praktik mencuci tangan yang tidak memadai oleh penjual minuman. Non-enterobacteriaceae yang terdeteksi umumnya ditemukan di lingkungan seperti tanah dan air. Hal ini menunjukkan tingkat kebersihan yang buruk ketika menangani makanan dan minuman.

Penelitian ini dilakukan dalam waktu 3 bulan, yang membatasi pengumpulan, kultur, dan analisis lebih lanjut untuk mendapatkan ukuran sampel yang lebih besar. Dengan hanya 30 sampel secara total, penelitian ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa patogen bakteri enterik, terutama Salmonella paratyphi umumnya hadir dalam minuman yang dijual oleh penjual minuman di Jatinangor, namun dapat dikatakan berpotensi menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air. Terlepas dari semua keterbatasan yang ada, penelitian ini masih dapat mendeteksi jumlah minuman yang mengandung bakteri enterik patogen.

Sebagai kesimpulan, minuman yang dijual oleh penjual minuman di Jatinangor memiliki potensi risiko untuk menyebabkan dampak kesehatan yang serius seperti penyakit yang ditularkan melalui air, terutama dengan ditemukannya bakteri Salmonella paratyphi. Penanganan yang tepat selama persiapan minuman serta sanitasi lingkungan adalah faktor penting untuk membantu dalam mencegah risiko lebih lanjut kepada konsumen, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup manusia.

[All pictures are displayed for illustration purpose only. All pictures are on CC0 licence: free for commercial use and no attribution required]

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *