Dukungan Gizi untuk DBD

CategoriesGizi KlinikTagged , , , , , , ,

Demam berdarah dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. DBD disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Di Indonesia, vektor penyakit DBD adalah nyamuk Aedes sp. terutama adalah Aedes aegypti walaupun Aedes albopictus dapat juga menjadi vektornya. Penyakit DBD merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya, dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara (Rampengan, 2008).

Infeksi dengue merupakan penyakit menular melalui nyamuk (mosquito-borne) yang paling sering terjadi pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, sehingga masih merupakan masalah kesehatan dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 2,5 miliar manusia tinggal di daerah virus dengue bersirkulasi (Karyanti, 2009). Di seluruh dunia diperkirakan terjadi lebih dari 50 juta kasus infeksi virus dengue terjadi tiap tahunnya dengan jumlah rawat inap sebesar 500.000 dan angka kematian lebih dari 20.000 jiwa. Tahun 2006 di Indonesia didapatkan laporan kasus dengue sebesar 106.425 orang dengan tingkat kematian 1,06% (Rizal, 2011). Pada tahun 2010 Indonesia memiliki kasus DBD tertinggi di ASEAN dengan 150.000 kasus dan 1.317 orang meninggal akibat penyakit ini (Puspitasari, 2011).

Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD di suatu wilayah antara lain faktor penderita (host), tersangka vektor, kondisi lingkungan, tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku serta mobilitas penduduk, yang berbeda-beda untuk setiap daerah dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Faktor lingkungan meliputi kondisi geografi dan demografi. Kondisi geografi yaitu ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, dan iklim (Djati, 2012).

Klasifikasi Kasus DBD

Sekarang para ahli sepakat bahwa infeksi dengue adalah suatu penyakit yang memiliki presentasi klinis bervariasi dengan perjalanan penyakit dan luaran (outcome) yang tidak dapat diramalkan.Diterbitkannya panduan World Health Organization (WHO) terbaru di tahun 2009 lalu, merupakan penyempurnaan dari panduan sebelumnya yaitu panduan WHO 1997 (WHO, 2009). Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah:

  1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs),
  2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan
  3. Dengue berat (severe dengue).

Patogenesis Demam Berdarah Dengue

Pada tahap awal virus dengue akan menyerang sel-sel makrofag dan bereplikasi dalam sel Langerhans dan makrofag di limpa. Selanjutnya, akan menstimulasi pengaturan sel T, reaksi silang sel T aviditas rendah dan reaksi silang sel T spesifik, yang akan meningkatkan produksi spesifik dan reaksi silang antibodi. Pada tahap berikutnya terjadi secara simultan reaksi silang antibodi dengan trombosit, reaksi silang antibodi dengan plasmin dan produk spesifik. Proses ini kemudian akan meningkatkan peran antibodi dalam meningkatkan titer virus dan di sisi lain antibodi bereaksi silang dengan endoteliosit (Lardo, 2013).

Pada tahap berikutnya terjadi efek replikasi sel mononuklear. Di dalam sel endotel, terjadi infeksi dan replikasi selektif sehingga terjadi apoptosis yang menyebabkan disfungsi endotel. Di sisi lain, akan terjadi stimulasi mediator yang dapat larut (misalnya TNF-α, INF γ, IL-1, IL-2, IL-6, dll) yang menyebabkan ketidakseimbangan profil sitokin dan mediator lain; pada tahap berikutnya terjadi gangguan koagulasi dan disfungsi endotel (Lardo, 2013).

Pada hati, akan terjadi replikasi dalam hepatosit dan sel Kuppfer. Terjadi nekrosis dan atau apoptosis yang menurunkan fungsi hati, melepaskan produk toksik ke dalam darah, meningkatkan fungsi koagulasi, meningkatkan konsumsi trombosit, aktivasi sistem fibrinolitik, dan menyebabkan gangguan koagulasi (Lardo, 2013).

Gambaran Klinis DBD

Infeksi DBD merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotipe virus dengue yaitu DEN 1, 2, 3, dan 4 dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di banyak daerah di dunia. Virus dengue dapat menyebabkan manifestasi klinis yang bermacam-macam dari asimtomatik sampai fatal (Wibowo, 2011).

Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan. Pada fase febris, biasanya demam mendadak tinggi 2-7 hari, disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorokan, injeksi faring dan konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti petekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan gastrointestinal (Sudjana, 2010).

Fase kritis, terjadi pada hari ke 3-7 dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24-48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok. Fase pemulihan, bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48-72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali, hemodinamik stabil dan diuresis membaik (Sudjana, 2010).

Diagnosis Demam Berdarah Dengue

Riwayat penyakit yang harus digali adalah saat mulai demam/sakit, tipe demam, jumlah asupan per oral, adanya tanda bahaya, diare, kemungkinan adanya gangguan kesadaran, output urin, juga adanya orang lain di lingkungan kerja, rumah yang sakit serupa. Pemeriksaan fisik selain tanda vital, juga pastikan kesadaran penderita, status hidrasi, status hemodinamik sehingga tanda-tanda syok dapat dikenal lebih dini, apakah ada hepatomegali/asites/kelainan abdomen lainnya, cari adanya ruam atau petekie atau tanda perdarahan lainnya, bila tanda perdarahan spontan tidak ditemukan maka lakukan uji torniket. Sensitivitas uji torniket ini sebesar 30% sedangkan spesifisitasnya mencapai 82% (Sudjana, 2010).

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan hematokrit dan nilai hematokrit yang tinggi (sekitar 50% atau lebih) menunjukkan adanya kebocoran plasma, selain itu hitung trombosit cenderung memberikan hasil yang rendah. Diagnosis konfirmatif diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium, yaitu isolasi virus, deteksi antibodi dan deteksi antigen atau RNA virus. Imunoglobulin M (Ig M) biasanya dapat terdeteksi dalam darah mulai hari ke-5 onset demam, meningkat sampai minggu ke-3 kemudian kadarnya menurun. Ig M masih dapat terdeteksi hingga hari ke-60 sampai hari ke-90. Pada infeksi primer, konsentrasi Ig M lebih tinggi dibandingkan pada infeksi sekunder. Pada infeksi primer, Imunoglobulin G (Ig G) dapat terdeteksi pada hari ke-14 dengan titer yang rendah (<1:640), sementara pada infeksi sekunder Ig G sudah dapat terdeteksi pada hari ke-2 dengan titer yang tinggi (> 1:2560) dan dapat bertahan seumur hidup (Sudjana, 2010).

Distribusi Kasus DBD

Kasus DBD per kelompok umur dari tahun 1993-2009 terjadi pergeseran. Dari tahun 1993 sampai tahun 1998 kelompok umur terbesar kasus DBD adalah kelompok umur <15 tahun, tahun 1999-2009 kelompok umur terbesar kasus DBD cenderung pada kelompok umur >=15 tahun. Perlu diteliti lebih lanjut hal mempengaruhinya, apakah karena virus yang semakin virulen (ganas) atau karena pengaruh lain (Kementrian Kesehatan RI, 2010).

Distribusi kasus berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2008, persentase penderita laki-laki dan perempuan hampir sama. Jumlah penderita berjenis kelamin laki-laki adalah 10.463 orang (53,78%) dan perempuan berjumlah 8.991 orang (46,23%). Hal ini menggambarkan bahwa risiko terkena DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama, tidak tergantung jenis kelamin (Kementrian Kesehatan RI, 2010).

kebutuhan cairan pada penderita demam berdarah dengue

Asuhan Gizi Pasien DBD

Diet TETP sebagai diet yang sering dipilih diberikan dengan tujuan untuk memberikan asupan energi dan protein yang adekuat guna mengoptimalkan kondisi pasien agar tidak lemah. Namun, ada juga panduan yang menyarankan untuk memberikan makanan biasa. Perhatian khusus harus diberikan pada asuoan cairan pasien demam berdarah dengue.

 

Daftar Pustaka

  1. Djati AP, Rahayujati B, Raharto S. Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul Provinsi DIY Tahun 2010. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK UNSOED, Purwokerto, 31 Maret 2012.
  2. Febryana E, Apriyanti H, Pradysta MK, Anindyajati G, Karunia APP, et al. Perbandingan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mengenai Demam Berdarah antara Kelurahan Sosromenduran dan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kodia Yogyakarta. Berita Kedokteran Masyarakat, 2010;26(2):100-6.
  3. Karyanti MR, Hadinegoro SR. Perubahan Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Sari Pediatri, 2009;10(6):424-32.
  4. Kementrian Kesehatan RI. Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 1968-2009. Buletin Jendela Epidemiologi, 2010;2:1-14.
  5. Lardo S. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue dengan Penyulit. CDK, 2013;40(9):656-60.
  6. Puspitasari R, Susanto I. Analisis Spasial Kasus Demam Berdarah di Sukoharjo Jawa Tengah dengan Menggunakan Indeks Moran. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika ”Matematika dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran” Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, Yogyakarta, 3 Desember 2011.
  7. Rampengan TH. Demam Berdarah Dengue dan Sindrom Syok Dengue. Dalam: Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Edisi 2. Jakarta:EGC;2008:122-47.
  8. Kebocoran Plasma pada Demam Berdarah Dengue. CDK, 2011;38(2):92-6.
  9. Sudjana P. Diagnosis Dini Penderita Demam Berdarah Dengue Dewasa. Buletin Jendela Epidemiologi, 2010;2:21-5.
  10. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New edition. Geneva. 2009.
  11. Wibowo K, Juffrie M, Laksanawati IS, Mulasih S. Pengaruh Transfusi Trombosit TerhadapTerjadinya Perdarahan Masif pada Demam Berdarah Dengue. Sari Pediatri 2011;12(6):404-8.

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *