Penelitian Terbaru Tentang Daging Sapi

CategoriesPanganTagged , , , , , ,

Daging sapi adalah salah satu sumber protein hewani yang cukup populer namun tergolong yang jarang dikonsumsi secara rutin karena harganya tidak semurah daging ayam. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian terbaru tentang daging sapi dan produk olahannya.

 

Analisis Kandungan Lemak Anjing di Sampel Bakso Sapi

Tingginya perbedaan harga daging, membuat beberapa penjual yang tidak etis mengganti daging sapi dengan daging anjing secara sengaja untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Profil kromatogram GCMS menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komposisi asam lemak antara daging anjing dan sapi. Pada lemak daging anjing muncul beberapa asam lemak yang tidak dimiliki oleh lemak daging sapi diantaranya asam kaproat, asam siklopentanetridekanoat, asam arakhidonat, asam 7,10,13- eikosatrienoat, asam 9,12,15- oktadekatrienoat. Analisis kualitatif dari kromatogram GCMS menggunakan PCA menunjukkan lemak sapi, anjing, kambing, babi dan ayam dapat diidentifikasi dan dibedakan.

Analisis kualitatif kandungan lemak anjing dalam bakso sapi formulasi menunjukkan perbedaan antara bakso formulasi yang memiliki kedekatan mirip dengan lemak sapi serta yang mirip dengan lemak anjing. Analisis kualitatif lemak anjing pada bakso sapi di pasaran menunjukkan sampel tidak mengandung lemak anjing.

Sumber: Analisis Asam Lemak Daging Anjing pada Bakso Sapi Menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) yang Dikombinasikan dengan PCA (Principal Component Analysis). Jurnal. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/ijh/article/view/3668

Daging Nugget Sapi di Medan Memiliki Kadar Nitrit Dalam Batas Aman

Natrium nitrit biasanya digunakan sebagai pengawet pada daging olahan. Penggunaan natrium nitrit yang berlebihan dan berkepanjangan dapat menyebabkan efek toksik bagi tubuh manusia. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan reagen asam sulfanilat dan N-1-naftiletilen-diamonium dan ditandai dengan terbentuknya warna merah keunguan sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 540 nm.

Hasil penelitian menunjukkan sampel A memiliki kadar nitrit 29,5 mg/kg, sedangkan sample B memiliki kadar nitrit 19,32 mg/kg, dan sample C memiliki kadar nitrit 29,5 mg/kg. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar natrium nitrit yang terdapat dalam masing-masing sampel tidak melebihi batas maksimum penggunaan natrium nitrit sesuai Permenkes No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan makanan yaitu 125 mg/kg sehingga masih aman untuk dikonsumsi.

Sumber: Analisis Kadar Nitrit pada Daging Nugget Sapi dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS. Skripsi. http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/6640

3 Merk Kornet Sapi di Wilayah Kedungmundu Tidak Mengandung Babi

Identifikasi campuran daging babi pada tiga macam merk kornet sapi dilakukan dengan metode PCR berdasarkan primer spesifik P14 yang menunjukkan lokus PRE-1 pada genom babi. Primer spesifik DNA digunakan untuk isolasi DNA sampel kornet yang akan diamplifikasi secara in vitro dengan menggunakan mesin PCR, hasil amplifikasi diidentifikasi dengan menggunakan elektroforesis gel, sehingga akan terlihat pita DNA sesuai dengan ukuran panjang DNA yang diamplifikasi. Pita DNA spesifik P14 dari daging babi dibandingkan dengan pita DNA spesifik daging sapi berdasarkan ukuran produk PCR yang terbentuk.

Berdasarkan hasil isolasi DNA pada 3 merk kornet sapi yang dijual di Supermarket disekitar wilayah Kedungmundu didapatkan sampel kornet negatif mengandung daging babi atau tidak terdapat cemaran daging babi pada kornet sapi. Sampel kornet sapi positif mengandung daging sapi ditandai dengan hasil produk PCR sampel sebesar 274 bp.

Sumber: Deteksi Daging Babi pada Tiga Merk Kornet Sapi Berdasarkan Gen Cytochrome b dengan Metode PCR. Prosiding. http://prosiding.unimus.ac.id/index.php/mahasiswa/article/view/141

cara memilih daging sapi halal dan murah

Kulit Buah Kakao Dapat Dipakai Membuat Daging Se’i

Asap cair merupakan larutan hasil pengembunan uap asap kayu yang dibakar pada keadaan udara terbatas pada suhu tinggi. Penggunaan asap cair sebagai pengawet sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan lama perendaman. Kombinasi konsentrasi dan lama perendaman daging dalam asap cair kulit buah kakao yang terbaik dalam proses pembuatan daging se’i adalah dengan konsentrasi 10% dan lama perendaman 60 menit.

Sumber: Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Perendaman Dalam Asap Cair Kulit Buah Kakao ( Pod) Pada Pembuatan Se’i Daging Sapi. Jurnal. https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/pertanian/article/view/265

Nanas Sebagai Pengempuk Daging Sapi Terbaik

Bahan marinasi yang digunakan dalam penelitian pengaruh teh hitam, nanas dan pepaya sebagai bahan marinasi terhadap kualitas daging sapi adalah larutan teh hitam, buah nanas, dan papaya masing-masing sebanyak 20% dari berat daging. Penggunaan air perasan nanas dan papaya berperan sebagai pembanding terhadap efektifitas teh hitam terhadap kadar protein, nilai pH dan keempukan daging sapi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein daging sapi yang dimarinasi menggunakan teh hitam dan papaya tidak berbeda nyata apabila dibandingkan dengan kontrol, namun berbeda nyata apabila dibandingkan dengan nanas. Kadar protein daging sapi yang dimarinasi menggunakan nanas adalah yang paling rendah. Penggunaan teh hitam sebagai bahan marinasi memiliki nilai pH terbaik (paling tinggi) apabila dibandingkan nanas (paling rendah) dan papaya. Marinasi menggunakan nanas memiliki nilai keempukkan terbaik dibandingkan dengan daging yang direndam didalam larutan teh hitam dan papaya. Penggunaan teh hitam sebagai bahan marinasi mampu mempertahankan kadar protein dan pH, namun tidak berpengaruh terhadap keempukan daging sapi.

Sumber: PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TEH HITAM, NANAS DAN PEPAYA SEBAGAI BAHAN MARINASI TERHADAP KUALITAS DAGING SAPI. Jurnal. https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/peternakan/article/view/6997

Pembuatan Se’i di 2 Depot di Kupang Belum Memenuhi Standar Keamanan Pangan

Daging se’i (daging asap) merupakan produk olahan tradisional yang popular di NTT. Proses pembuatan se’i dapat menggunakan bahan daging babi atau daging sapi. Sistem pengolahan se’i masih menggunakan cara yang tradisional dan konvensional. Untuk memproduksi produk pangan yang aman dikonsumsi, perlu menggunakan standar-standar keamanan pangan. Salah satu standar keamanan pangan yang diakui adalah Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP).

Hasil yang diperoleh di dua depot se’i di Kota Kupang belum menerapkan standar HACCP, SSOP, dan proses GMP, sehingga ada potensi bahaya dari aspek biologis, fisik dan kimia. Dari identifikasi CCP ditetapkan 5 proses yang memiliki CCP, yaitu: penerimaan daging, pengirisan, pencampuran bumbu, pengasapan dan penyimpanan. Perlu menerapkan HACCP untuk menunjang produksi se’i. Rekomendasi untuk HACCP, SSOP dan GMP adalah; higienitas karyawan, pemeriksaan alat produksi secara berkala, perbaikan tata ruang, dan keamanan air.

Sumber: Evaluasi Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada Mutu Daging Se’i Babi di Kota Kupang. Jurnal. http://jpi.faterna.unand.ac.id/index.php/jpi/article/view/337

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *