Perbandingan RDA Amerika Serikat dan AKG Indonesia

CategoriesGizi MasyarakatTagged , , , , , , , ,

Recommended Dietary Allowances (RDA) adalah tingkat asupan harian zat gizi yang dianggap cukup oleh “the Food and Nutrition Board of the Institute of Medicine” untuk memenuhi kebutuhan dari 97,5% individu sehat pada tiap kelompok umur dan jenis kelamin. Definisi ini juga dapat diartikan bahwa tingkat asupan tersebut dapat menyebabkan defisiensi gizi yang berbahaya pada hanya 2,5% individu. Perhitungannya didasarkan pada Estimated Average Requirements (EAR) (perkiraan tingkat asupan yang memenuhi kebutuhan dari 50% individu pada kelompok umur dan jenis kelamin tertentu berdasarkan tinjauan pustaka ilmiah), dan biasanya nilainya kira-kira 20% lebih tinggi dari EAR.

Angka Kecukupan Gizi bagi Bangsa Indonesia (AKG) berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2013 merupakan suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktifitas tubuh untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. AKG bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan memenuhi kebutuhan sekitar 97-98% populasi sehat.

kandungan gizi telur ayam kampung

Persamaan yang dapat disimpulkan adalah keduanya merupakan keputusan yang diambil oleh lembaga resmi pemerintah, yang berlaku di masing-masing negara, meskipun kini DRI (yang merupakan perluasan dari RDA) yang menjadi acuan resmi di Amerika Serikat. Kelompok sasarannya juga sama yaitu individu-individu sehat, dengan kisaran 97-98%. Pengelompokan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, dsb juga dapat dianggap sama. Bahkan secara awam dapat dikatakan bahwa AKG adalah terjemahan dari RDA.

Baca juga: Popularitas Susu Unta Meningkat

Perbedaan RDA dan AKG dapat diamati pada beberapa hal. Pertama, proses penyusunan. RDA (atau lebih tepatnya DRI) disusun dengan penelitian yang cukup komprehensif, dengan laporan ilmiah yang mudah diakses. Secara keseluruhan ada 7 laporan ilmiah (terbit antara tahun 1997 hingga 2011) yang mendasari penyusunan DRI yang berlaku saat ini. AKG tidak memiliki dukungan laporan ilmiah serupa.

Kedua, format tabel. AKG menggunakan tabel yang menyatukan berbagai zat gizi dalam satu tabel yang sama dengan kelompok usia dan jenis kelamin yang menjadi acuannya. Sedangkan DRI menggunakan acuan zat gizinya, lalu dirinci fungsinya, pengelompokan sesuai usia dan jenis kelamin, angka RDA/AI dan UL, sumber utama, dan efek samping jika dikonsumsi berlebihan.

Ketiga, AKG kurang informatif. Makanan sumber utama zat gizi yang ada AKGnya tidak dicantumkan, sedangkan DRI mencantumkannya. Demikian pula tentang efek samping jika mengonsumsi zat gizi tertentu secara berlebihan tidak ditemukan dalam tabel AKG. DRI bahkan melengkapinya jika ada pertimbangan khusus menyangkut zat gizi tertentu maka dicantumkan di kolom terpisah.

Keempat, pembagian kelompok. Perbedaan dapat ditemukan terutama pada pembagian kelompok berdasarkan rentang usia. Bisa dijumpai rentang yang berbeda, maupun usia awal kelompok tertentu yang berbeda.

Kelima, besaran angka. Kebutuhan masyarakat Indonesia tentu berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat karena perbedaan genetik, gaya hidup, budaya dan lain sebagainya. Kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, dan serat secara umum lebih tinggi pada AKG dibandingkan RDA. Variasi serupa juga ditemukan pada kelompok mikronutrien dan air.

Perbedaan RDA dan AKG cukup jelas, sehingga tidaklah pas menganggap bahwa AKG adalah terjemahan dari RDA. Masyarakat Indonesia patut bersyukur karena ada standar yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dan diperbaharui secara berkala. Kiranya pemerintah dapat menyusun AKG dengan lebih rinci, berdasarkan bukti ilmiah yang kuat, dan yang terpenting adalah juga mengupayakan supaya setiap warga negara dapat memenuhi angka tersebut.

Last update: 2016

About the author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *